MATARAM, Panorama NTB – Proses pemeriksaan kesehatan (medical check-up) yang dijalani oleh Liawanti Atari, salah seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Kopang, Lombok Tengah, berjalan dengan lancar. Berdasarkan pantauan langsung tim Panorama NTB di lokasi, proses pemeriksaan di Mataram tersebut berlangsung tertib tanpa adanya antrean yang memanjang.
Liawanti merupakan salah satu pahlawan devisa yang tengah mempersiapkan diri untuk berangkat kerja ke Dubai, Uni Emirat Arab. Pemeriksaan kesehatan ini menjadi salah satu syarat mutlak dan krusial yang harus dipenuhi demi memastikan kelayakan fisik dan dokumen keberangkatannya ke Timur Tengah.
Sembari menunggu hasil pemeriksaan resmi keluar, saat ini Liawanti telah kembali ke kediamannya di Kopang. Di rumahnya, ia menanti dengan penuh harapan agar seluruh hasil pemeriksaan medisnya dinyatakan lolos (Fit to Work) tanpa ada kendala satu pun. Bagi Liawanti, keberangkatan ke Dubai kali ini membawa misi besar untuk menopang dan meningkatkan roda perekonomian keluarganya di kampung halaman.
Potret Dilema Sosial NTB
Kisah Liawanti hanyalah satu dari ribuan cerita serupa di Nusa Tenggara Barat. Fenomena ini memicu sebuah pertanyaan mendasar yang krusial bagi publik dan pembuat kebijakan di NTB: Apakah kita harus bangga karena daerah mampu “mengekspor” tenaga kerja ke luar negeri, atau sebaliknya, kita justru harus prihatin?
Di satu sisi, tingginya minat warga menjadi PMI menunjukkan ketangguhan dan semangat juang masyarakat NTB dalam memperbaiki taraf hidup. Mereka layak disebut pahlawan devisa karena kontribusi ekonominya yang nyata bagi daerah. Namun di sisi lain, realitas ini menjadi kritik tajam bagi pemerintah daerah. Fenomena ini seolah mempertegas bahwa pemerintah belum mampu menyediakan peluang dan lapangan kerja yang cukup serta layak di dalam negeri untuk warganya sendiri.
Selama lapangan kerja di daerah masih minim dan upah belum memadai, arus keberangkatan pejuang devisa seperti Liawanti ke luar negeri akan terus mengalir. Tim Panorama NTB akan terus memantau perkembangan proses keberangkatannya hingga ke negara tujuan, sembari terus mengawal isu ketenagakerjaan di bumi Gora. (razis efendi/red)



















