Estafet Kapolri dan “Musikal” Jabatan Istana: Reformasi Riil atau Sekadar Sandiwara Politik?

MATARAM, Panorama NTB – Publik baik tengah disuguhi dinamika politik tingkat tinggi yang bergerak sangat cepat. Presiden Prabowo Subianto secara resmi telah melantik Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri baru menggantikan Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo. Langkah kilat yang diawali dari Surat Presiden (Surpres) pada akhir September hingga persetujuan aklamasi di DPR RI ini memicu riak opini yang sangat kontras di tengah masyarakat.

Bagi sebagian besar kalangan, kabar pemberhentian Listyo Sigit dari kursi tertinggi Korps Bhayangkara merupakan angin segar yang sudah lama dinanti-nanti. Ketidakpuasan publik atas kinerja penegakan hukum dalam beberapa tahun terakhir membuat pergantian ini disambut penuh suka cita. Banyak pihak yang menaruh harapan besar bahwa pencopotan ini merupakan sinyal keras perbaikan institusi kepolisian.

Namun, euforia masyarakat tersebut mendadak berubah menjadi tanda tanya besar dan senyuman kecut. Realitas bahwa Listyo Sigit tidak benar-benar tersingkir dari lingkaran kekuasaan, melainkan langsung diberi karpet merah sebagai Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP), seketika membuyarkan optimisme tersebut.

Skeptisisme Publik: Kekhawatiran Itu Semua Hanya Drama yang Ujungnya Ketebak?

Masyarakat dan sejumlah pengamat kini mulai melemparkan pertanyaan kritis: Apakah pergantian Kapolri ini merupakan bentuk evaluasi murni atas keprihatinan publik terhadap kinerja kepolisian yang dianggap buruk, ataukah ini hanya sebuah “drama berseri” yang berputar-putar di tempat?

Fenomena “tukar guling” jabatan ini dinilai mempertegas kekhawatiran bahwa otoritas dan kendali kebijakan strategis di negara ini masih berada di bawah kendali lingkaran kepentingan yang sama. Penempatan mantan Kapolri ke pos vital KSP menimbulkan kesan kuat di mata publik bahwa rotasi ini tak lebih dari sekadar kompromi politik demi stabilitas gerbong kekuasaan, alih-alih sebuah sanksi tegas atau reformasi birokrasi yang sejati.

Ujian Berat dan Selamat Bertugas untuk Jenderal Suyudi

Kendati dibayangi skeptisisme politik di tingkat pusat, masyarakat tetap menggantungkan asa yang tinggi pada nakhoda baru. Jabatan baru ini harus dijawab oleh Jenderal Suyudi Ario Seto bukan dengan retorika, melainkan dengan pembuktian kinerja yang jauh lebih bersih, profesional, berkeadilan, dan responsif terhadap jeritan masyarakat di tingkat bawah.
Selamat bertugas, Jenderal Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri baru Republik Indonesia. Publik menanti gebrakan nyata Anda untuk membuktikan bahwa pergantian ini adalah jawaban atas kerinduan reformasi Polri, bukan sekadar kelanjutan dari sandiwara politik elite. (red)

Penulis Opini:
adv. Dr. (cand). Marzuki M.H. CIM.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *