Riyadh Dihantam Serangan Rudal Houthi yang Menyasar Bandara Internasional Raja Khalid, Koalisi Membalas dengan Menghancurkan 82 Target Militer di Yaman

RIYADH, Panorama NTB – Ibu kota Arab Saudi, Riyadh, diguncang gelombang eskalasi militer yang sengit pada hari Kamis akibat serangan rudal skala besar yang diluncurkan oleh kelompok “Houthi” dari Yaman.

Berdasarkan laporan komprehensif dari kantor berita internasional Reuters dan AFP, serangan tersebut menargetkan infrastruktur serta fasilitas sipil di wilayah ibu kota.

Insiden ini menyebabkan terdengarnya serangkaian ledakan kuat yang menggetarkan seisi kota, disusul dengan membubungnya asap hitam pekat di sekitar Bandara Internasional Raja Khalid. Situasi ini memicu siaga keamanan tingkat tinggi serta penerapan langkah-langkah pencegahan ketat yang melibatkan misi diplomatik dan sekolah-sekolah.

Detail Serangan di Lapangan dan Penargetan Bandara

Sumber lapangan dan pemantauan Kantor Berita Xinhua melaporkan terdengarnya serangkaian ledakan berturut-turut di ibu kota Arab Saudi yang sempat menggetarkan bangunan tempat tinggal warga.

Setelah itu, kepulan asap hitam pekat terlihat membubung di dekat depot bahan bakar yang berada di kawasan Bandara Internasional Raja Khalid.

Merespons situasi darurat ini, Otoritas Penerbangan Sipil Arab Saudi (GACA) segera mengumumkan penundaan, pembatalan, dan pengalihan rute berbagai penerbangan, baik yang datang maupun berangkat, guna menjamin keselamatan penumpang.

Sebagai langkah pencegahan, sejumlah kedutaan asing menginstruksikan staf mereka untuk berlindung, sementara sekolah-sekolah internasional memindahkan siswa ke lantai bawah yang lebih aman hingga ancaman udara berakhir.
Klaim Houthi dan “Peringatan Terakhir”

Di pihak lain, kelompok Houthi (Ansar Allah) secara resmi menyatakan bertanggung jawab atas operasi tersebut.

Juru bicara militer kelompok tersebut, Yahya Saree, menyatakan bahwa kekuatan rudal mereka berhasil membidik Bandara Internasional Raja Khalid di Riyadh menggunakan rudal balistik yang mengenai sasarannya.

Juru bicara itu juga menyampaikan apa yang ia sebut sebagai “peringatan terakhir” kepada seluruh maskapai penerbangan internasional untuk menjauh dan menghindari bandara serta wilayah udara Arab Saudi, seraya mengancam akan terus melanjutkan operasi militer mereka.

Korban Jiwa dan Respons Pasukan Koalisi

Mengenai jumlah korban, data resmi yang dirilis oleh GACA bersama laporan dari BBC Arabic mengungkapkan bahwa rentetan serangan yang menyasar Bandara Raja Khalid (di Riyadh) dan Bandara Abha (di selatan Arab Saudi) dalam 48 jam terakhir telah menyebabkan 3 orang tewas dan 36 lainnya luka-luka dengan tingkat keparahan yang bervariasi.

Selain itu, serangan juga menimbulkan kerusakan material pada beberapa pesawat sipil dan fasilitas bandara.

Merespons serangan ini, Komando Pasukan Koalisi untuk Mendukung Legitimasi di Yaman mengumumkan peluncuran operasi militer skala besar guna meredam ancaman tersebut. Pihak Koalisi menegaskan telah berhasil menghancurkan 82 target militer milik Houthi di beberapa provinsi Yaman. Target yang dihancurkan meliputi gudang rudal balistik, landasan peluncuran drone, serta pusat komando dan komunikasi canggih di Saada, Hodeidah, Al-Jawf, dan Marib.

Konteks Ketegangan Regional dan Dampaknya pada Pasar Global
Gejolak di lapangan ini terjadi setelah kembali pecahnya pertempuran sengit di Yaman sejak Juli lalu.

Laporan BBC Arabic menyebutkan bahwa situasi tersebut mengakhiri masa jeda konflik (gencatan senjata) yang sempat berlangsung selama beberapa tahun sejak tahun 2022, serta memicu gelombang pengungsian baru yang mencakup lebih dari 200.000 warga sipil menurut perkiraan PBB.

Di sektor ekonomi, perkembangan ini langsung membayangi pasar energi global. Berdasarkan analisis pasar yang dihimpun oleh Reuters, serangan tersebut memicu kekhawatiran nyata di kalangan investor terkait keamanan pasokan minyak dan jalur pelayaran di kawasan tersebut.

Hal ini menyebabkan lonjakan cepat pada harga minyak dunia, di mana harga minyak mentah Brent langsung melewati ambang batas 100 dolar AS per barel sesaat setelah berita pemboman dan kepulan asap di Riyadh menyebar luas di media iinternasional. (red)

Related posts