MATARAM, PANORAMA NTB – Direktur Utama Perum Bulog, Letjen TNI (Purn) Ahmad Rizal Ramdhani, melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah ritel modern di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sabtu (10/10/2026). Kunjungan tersebut dilakukan untuk memantau ketersediaan beras program pemerintah sekaligus memastikan harga jualnya sesuai dengan ketentuan Harga Eceran Tertinggi (HET).Dalam pemantauan tersebut, Bulog meninjau ketersediaan beras premium dan beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) di sejumlah gerai, termasuk Lotte Mart Abian Tubuh dan jaringan Alfamart di Mataram.Berdasarkan informasi yang disampaikan pengelola ritel, beras SPHP mendapat respons dari konsumen. Penjualan di salah satu gerai Lotte Mart dilaporkan mencapai sekitar 3 hingga 4 ton per bulan.
Bulog Ingatkan Pentingnya Kepatuhan terhadap HET
Dalam kesempatan itu, Ahmad Rizal Ramdhani mengingatkan pelaku usaha agar mematuhi ketentuan harga beras yang ditetapkan pemerintah. Pengawasan tersebut ditujukan untuk menjaga keterjangkauan harga pangan bagi masyarakat.Sebagaimana diberitakan sejumlah media, Rizal juga menegaskan bahwa penjualan beras di atas HET dapat menjadi dasar pemeriksaan oleh Satgas Pangan Polri sesuai ketentuan yang berlaku.Untuk beras SPHP, harga yang disebutkan dalam laporan tersebut adalah Rp12.500 per kilogram atau Rp62.500 untuk kemasan 5 kilogram. Namun, penerapan HET perlu disesuaikan dengan ketentuan resmi yang berlaku untuk wilayah dan periode penjualan terkait.Pengawasan harga pangan di Kota Mataram juga dilakukan melalui pemantauan pasar tradisional. Kegiatan tersebut melibatkan unsur kepolisian dan Satgas Pangan untuk memantau perkembangan harga serta ketersediaan bahan pokok.
Penyerapan Gabah dan Beras di NTB
Selain memantau distribusi beras, kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga ketersediaan pangan di tengah masyarakat.Berdasarkan data yang dikutip dalam sejumlah pemberitaan, penyerapan gabah dan beras secara nasional dilaporkan mencapai sekitar 4,11 juta ton setara beras hingga Oktober 2026, melampaui target awal sebesar 4 juta ton.Sementara itu, realisasi penyerapan di wilayah NTB dilaporkan mencapai sekitar 226 ribu ton atau 94 persen dari target tahunan sebesar 240 ribu ton. Dengan demikian, masih terdapat sekitar 14 ribu ton yang perlu dipenuhi untuk mencapai target tersebut.Angka-angka tersebut perlu dicocokkan kembali dengan keterangan resmi Perum Bulog agar periode penghitungan, satuan, dan status realisasinya tepat sebelum dipublikasikan.Ke depan, pemantauan harga pangan di pasar tradisional dan ritel modern diharapkan dapat membantu menjaga ketersediaan serta keterjangkauan berbagai kebutuhan pokok, termasuk beras, minyak goreng, gula, telur, dan daging.PANORAMA NTB akan terus mendorong penyajian informasi pangan yang akurat, berimbang, dan terverifikasi sebagai bagian dari pelayanan informasi kepada masyarakat. (red)



















