LOMBOK TENGAH, PANORAMA NTB – Menanggapi insiden dugaan keracunan Makanan Bergizi (MB) yang melanda ribuan warga di Desa Beber, pihak mitra pengelola program angkat bicara. Dalam wawancara eksklusif bersama Panorama NTB di fasilitas SPPG pada Selasa (15/9/2026), Pak Khaerudin selaku perwakilan mitra menyampaikan permohonan maaf yang mendalam atas kepanikan dan kegaduhan yang terjadi, baik di lokasi kejadian maupun di media sosial.
Murni Musibah dan Tanpa Unsur Kesengajaan
Dengan penuh rasa penyesalan, Khaerudin menegaskan bahwa insiden ini merupakan musibah di luar perkiraan dan sama sekali tidak ada unsur kesengajaan dari pihak mana pun.
“Kami meminta maaf yang sebesar-besarnya. Sebagai manusia, kami tidak luput dari kekhilafan. Namun sebagai orang beragama, kami tegaskan tidak ada satu pun dari kami—baik pihak mitra maupun SPPG—yang sengaja melakukan hal ini. Niat awal kami murni untuk membantu dan melayani masyarakat dengan baik,” ujar Khaerudin.
Khaerudin juga meluruskan dinamika yang sempat viral di platform TikTok, meminta masyarakat untuk menyikapi situasi ini dengan tenang sembari menunggu hasil resmi dari otoritas kesehatan.

Dampak Skala Besar dan Fokus Rekam Medis
Pihak pengelola mengakui situasi di lapangan sempat memicu kepanikan massal mengingat besarnya jumlah massa yang dilayani pada hari tersebut. Berdasarkan data internal, total sasaran program mencapai 3.300 orang, di mana sekitar 2.000-an warga terlibat, dan 1.904 orang hadir langsung pada hari kejadian.
Mengenai jumlah pasti warga yang mengalami gejala keracunan, Khaerudin menyatakan pihaknya terus berkoordinasi dengan kepala puskesmas dan petugas kesehatan setempat. Pihaknya memilih untuk bersikap hati-hati dan sepenuhnya merujuk pada hasil rekam medis resmi (RN) yang sedang diproses oleh tim medis.
Jadikan Pelajaran Mahal dan Siap Patuhi Arahan BGN
Pihak pengelola memandang peristiwa ini sebagai sebuah proses dan pelajaran yang sangat berharga (hikmah) untuk meningkatkan standar operasional ke depan. Mengingat program ini melayani masyarakat luas, faktor kehati-hatian akan menjadi prioritas mutlak yang dievaluasi.
Menutup pernyataannya, Khaerudin menegaskan posisinya sebagai mitra kerja dari SPPG/SPPI siap tunduk dan taat pada aturan regulasi yang berlaku. Pihaknya menyerahkan sepenuhnya investigasi kasus ini kepada mekanisme pengawasan resmi.
“Kami siap menerima segala arahan, keputusan, dan evaluasi dari Badan Gizi Nasional (BGN) selaku supervisor dan pengawas tertinggi kegiatan MBG di Indonesia. Kami biarkan mekanisme ini berjalan secara transparan agar kita tahu persis letak masalahnya di mana,” pungkasnya. (emzi/red)











