JAKARTA — Penggunaan desil dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) sebagai acuan penentuan penerima bantuan sosial (bansos) dinilai perlu dilengkapi dengan verifikasi lapangan dan indikator ekonomi yang lebih komprehensif.
Pengamat Ekonomi Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menyampaikan bahwa pemutakhiran data desil setiap tiga bulan tetap menyisakan risiko kesalahan sasaran, seperti exclusion error (keluarga berhak yang terlewat) maupun inclusion error (keluarga tidak berhak yang menerima). Menurutnya, tingkat kesejahteraan rumah tangga dapat berubah lebih cepat dibandingkan siklus pemutakhiran data.
Syafruddin menyarankan agar desil digunakan sebagai penyaringan tahap awal (first-stage screening) yang dikombinasikan dengan kriteria kondisi kerentanan, data kejadian seperti PHK atau bencana, serta indikator multidimensi mencakup pengeluaran, kondisi rumah, daya listrik, pendidikan, dan aset produktif. Penilaian berbasis indikator luas ini dinilai sangat krusial, terutama bagi kelompok masyarakat berpenghasilan tidak tetap seperti petani, nelayan, dan pelaku UMKM.
Sumber: CNN Indonesia











